Banyak generasi millennial tumbuh besar dengan prinsip-prinsip serta cara pengasuhan yang dulu dipandang sebagai standar sempurna oleh para orangtua mereka. Penekanan pada pencapaian, kerapatan, dan kesopanan merupakan prioritas pokok, sedangkan area bagi individu untuk mengekspresikan diri atau mengenal identitas pribadi sering dilupakan. Walaupun tujuan dari pendidikan tersebut mungkin bermaksud baik, namun hasil akhirnya dapat memberikan efek yang tidak sama seperti harapan di masa mendatang.
Banyak orang sekarang mulai mengenali bahwa beberapa pelajaran saat kecil ternyata menjadi beban emosi yang disembunyikan. Di balik kesuksesan dan ketahanan mereka, masih ada rasa tidak nyaman tentang berbagai hal yang dulunya dianggap wajar. Diantara enam poin tersebut menjadi fokus karena selama ini dirasakan sangat menyakitkan.
1. Beban belajar yang sangat memberatkan
Banyak generasi muda berkembang dalam lingkungan dengan beban pendidikan yang berat. Meraih prestasi di sekolah dinilai kurang memadai kecuali disertai partisipasi dalam kompetisi, penampilan di panggung seni, atau aktif sebagai atlet. Mereka ditekan agar melanjutkan studi di perguruan tinggi terkenal seakan-akan hal tersebut adalah satu-satunya jalur meraih sukses.
Sayangnya, kehidupan nyata pasca wisuda umumnya berbeda dari apa yang diharapkan, terutama menghadapi lingkungan pekerjaan yang penuh persaingan serta situasi finansial yang tidak stabil. Beban ini tetap ada bahkan saat seseorang telah menjadi dewasa.
Berdasarkan hasil survei Deloitte pada tahun 2024, 45% generasi milenial menyatakan bahwa mereka merasakan kondisi burnout saat bekerja. Stres yang pernah dialaminya ketika masih duduk di bangku sekolah kini muncul lagi, namun dengan wujud yang berbeda. Persyaratan untuk selalu menunjukkan kemampuan serta bersaing dalam skala global telah meningkatkan risiko milenial mengalami kelelahan secara psikologis dan emosi.
2. Dihukum lantaran mengungkapkan perasaan
Generasi orangtua yang lalu umumnya lebih mementingkan sikap tegas dibandingkan keterbukaan emosional. Anak-anak milenial diajarkan bahwa tangisan atau keluhan merupakan indikator lemah. Sebenarnya, rasa tersebut normal dan biasa bagi manusia. Akibatnya, mereka berkembang dengan kesulitan dalam menyampaikan perasaannya sendiri dan kerapkali merasakan pemutusan hubungan emosional dengan lingkaran sosial mereka.
Saat ini, generasi muda tengah berjuang untuk meningkatkan keterkaitan mereka dengan diri sendiri. Mereka perlahan menyadari bahwa memiliki emosi tidak selalu menunjukkan ketidakmampuan, tetapi justru merupakan ungkapan keberanian dalam bersikap asli. Akan tetapi, di sisi lain, terdapat rasa frustasi lantaran mereka harus menghadapi hal-hal tersebut secara mandiri tanpa didampingi oleh fondasi yang seharusnya diperoleh pada masa kanak-kanak.
3. Wali yang terlalu pelindung
Banyak generasi muda ini tumbuh di bawah sayakan orangtua yang amat protektif. Karena ketakutan akan ancaman berbagai risiko, para orang tua tersebut sering kali menolak permintaan si buah hati tanpa pertimbangan lain selain argumen tentang keselamatan. Fenomena ini kemudian menciptakan ungkapan "orang tua helikopter", merujuk pada figur ayah atau ibu yang secara konstan mendampingi serta mengambil kendali atas semua hambatan yang mestinya dapat dipetik pengalamannya sebagai pembelajaran bagi sang anak.
Walaupun memiliki niat yang baik, pendekatan pengasuhan semacam itu malah bisa menahan pertumbuhan kemandirian anak. Anak-anak didikan dalam metode ini biasanya akan merasa kesulitan untuk memutuskan sesuatu secara mandiri dan kurang terbiasa menghadapi perselisihan. Sebagai hasilnya, di usia dewasa, mereka mungkin menjadi individu yang pemalu, ragu-ragu dalam ambil resiko, serta bermasalah dalam bangkit setelah gagal.
4. Tertimpa oleh Stereotip Gender
Generasi milenial berkembang dalam suatu lingkaran sosial yang erat kaitannya dengan berbagai prasangka gender. Pria tidak boleh menunjukkan emosi seperti tangisan, sedangkan wanita dibesarkan agar tetap lembut dan selalu memprioritaskan keperluan orang lain. Sangat jarang ada kesempatan bagi mereka untuk menyelami jati diri melewati garis-garis yang telah digariskan semenjak usia muda.
Tidak seperti Generasi Z yang cenderung lebih leluasa dalam mengungkapkan dirinya, Milenial mungkin baru berani meragukan dan mencoba melawan norma tersebut ketika sudah tumbuh dewasa. Setelah matang, mereka mulai paham bahwa ada begitu banyak kemampuan yang belum tergali akibat tekanan harus sesuai dengan ekspektasi tak masuk akal itu. Sebagian besar di antara mereka tetap memiliki rasa penyesalan atas kurang luwesnya waktu kecil dimana mereka diperintahkan untuk selalu serupa dengan apa yang orang lain inginkan.
5. Cara membatasi tidak diajarkan
Banyak generasi muda merasa kesulitan untuk berkata "tidak" karena mereka belum pernah mendapatkan pelajaran tentang pentingnya memiliki batas pribadi yang baik. Kebiasaan ini membuat mereka sering kali memenuhi harapan orang lain, meskipun hal tersebut bisa berdampak buruk bagi diri mereka sendiri. Hal ini pada gilirannya menjadikan banyak dari mereka merasa letih, dieksploitasi, serta akhirnya mengumpulkan amarah tanpa pengetahuan bagaimana mengelolanya dengan benar.
Kehilangan batasan sama artinya dengan membuka potensi timbulnya perasaan frustasi. Saat individu tak memiliki kontrol atas nasibnya, dia bakal selalu mengira bahwa nilainya tak diakui. Generasi milenial saat ini tengah berusaha untuk bersikap transparan kepada diri masing-masing, membatasi hal-hal tertentu, serta melindungi tenaganya supaya tidak habis hanya demi memenuhi harapan orang lain.
Pendidikan dari generasi sebelumnya mungkin bertujuan positif, namun untuk banyak anggota milenial, itu menciptakan dampak yang dirasakan sampai saat ini. Mereka dibesarkan dalam lingkungan penuh tekanan, harapan tinggi, serta pembatasan-pembatasan yang secara berangsur-anganur diketahui tak selalu wajib dipertahankan. Bagaimana dengan Anda sendiri, apakah sebagai bagian dari generasi milenial Anda juga mengalaminya?